Nama ku CINTA. Hidup baru mu yang kau jalani saat ini seakan membuka tabir baru, kau tak mampu menghindar dari aku. Sekuat apa pun ragamu, setinggi apa pun filosofi hidup mu, sekeras batu karang hati mu, hingga pada fikirmu pun yang seluas samudera, aku tetap bertahan pada wajib ku. Hidupmu saat ini bagaikan sekeping mata uang logam. Menjadi bagian atas dua sisinya. Sadarmu kadang mengingatkan dan menorehkan rasamu ,
Siap untuk berbagi, siap untuk dibagi, siap untuk terbagi, siap untuk membagi Cinta
Atas namanya, seandainya waktu bisa berputar ke belakang
Tidak ada seorangpun yang ingin….
Untuk berbagi cinta, untuk dibagi cinta, untuk terbagi cinta, untuk membagi cinta
Tetapi, bukankah hidup untuk berbagi? Dianugerahkan hidup untuk ikhlas berbagi……..
Aku, yang hadir pada bentuk cinta di relung hati mu. Hidupmu adalah sebuah pilihan terbesar yang harus kau putuskan. Ikuti kata hatimu atas berbagai hal yang tersirat. Akan kah terus hidup dan tumbuh sebagai cinta di antara keduanya dan menerimanya sebagai yang terdua dengan ikhlas, tanpa beban berpikir ada yang tersakiti. Atau hadir dengan langkah ringan, dengan tawa bahagia, bergembira di atas penderitaan orang lain. Atau kau jalani langkah panjangmu tanpa pernah berpaling pada pemilik dunia ini, bahwa kau menerima kodratmu bukan sebagai yang pertama, dan membiarkan takdir yang berbicara atas nama cinta.
Senin, 13 Juni 2011
CERITA CINTA PART 2
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 19.30 0 komentar
Label: my Stories ...
CERITA CINTA PART 1
Nama ku Cinta. Aku datang tiba tiba ,tidak ada ketukan pintu untuk mengingatkan mu si pemilik hati. Tapi aku hadir untuk memberi keindahan dan kepahitan merasakan hidup yang penuh dengan warna terang dan gelapnya, hitam dan putihnya.
Aku datang untuk menunjukkan mu, aku membuat mata mu gelap, otakmu tumpul, hati mu gundah gulana, tak ada tidur nyenyak, ketidak tenangan, keresahan, kecemburuan, pengorbanan tidak terhingga, keresahan….
Atau kekuatan ku memperlihatkan, betapa cantiknya wajah mu, tampannya diri mu, pemberi semangat di langkah mu mengarungi hidup, menyadarkan mu atas nikmat yang diberi pemilik nafas, menyenyakkan lelapmu, menenangkan hatimu, membuatmu tersadar…..engkau diciptakan tidak untuk sendiri…….
Perjalanan baru saja dimulai..
Ketika kamu membuka pintu, sebuah kedatangan tanpa pernah diharapkan dan diminta. Tak pernah terbesit di pikiran mu ….. bahkan keterkejutan dan ribuan tanya baru saja muncul pada kesadaran di baris paling belakang. Membuat mu berguncang. Dan itu sebagian dari tugasku.
Tapi tahukah kau? Aku hadir dihidupmu juga tanpa aku minta. Tapi karena pemilik ku ingin aku hadir untuk bersamamu. Aku hadir untuk menemani kelam hidup mu. Membantumu menuntaskan keinginanmu yang tak pernah kau berani memusnahkannya. Sebuah perjalanan panjang yang kau lalui dan menjadi bom waktu yang siap untuk meledak, tapi aku selalu di samping mu.
Dan langkah mu pun menjadi ringan. Karena aku tidak lagi hadir pada manusia lama mu. Tapi aku hadir sebagai manusia baru untuk mu. Aku lahir di malaikat malaikat kecil mu. Aku selalu ada di hati orang orang yang kamu cintai dan mencintai kamu. Karena nama ku adalah CINTA. Dan itu akan menjadi misteri untuk mu dan untuk nya, juga kalian, selama nafas terus berhembus.
Satu langkah awalmu mulai merangkai kata dan cerita, halaman demi halaman di lembaran tulisan perjalananmu. Aku tahu hatimu menjerit, air mata tidak hanya keluar dari matamu yang indah, tapi dia sudah muncul di setiap pori pori tubuhmu. Kau sering bertanya pada ku, mengapa aku ada di saat yang tidak di harapkan, pada atmosfir yang sudah berjalan sesuai dengan alur cerita kehidupan wajar. Aku mengintip perbincanganmu dalam hati, engkau tidak ingin menyakiti siapapun, tidak ingin merusak kebahagiaan siapapun, dan aku hanya berbisik padamu, menyadarkanmu bahwa Tuhan yang memiliki mu punya rencana lain, rahasia terindah, yang terungkap di waktu Nya.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 19.29 0 komentar
Label: my Stories ...
Jumat, 03 Juni 2011
Seperti yang sudah-sudah dan berlangsung terus menerus membosankan. Rasa-rasanya seperti tidak ada keterjadian yang menarik, something special, sesuatu yang berbeda.
Aku mencari-cari cemistri hidupku dengan tujuanku. Nothing. I did anything but I got nothing. Why?
Apa yang membuatku bahagia? Aku kenali lagi prosesnya, lalu bertanya ‘Who Am I?’ SIAPA AKU?
Aku bukanlah orang yang pandai, aku tidak cerdas, aku juga tidak hebat. Lalu siapa aku?
Ternyata aku seperti selai kacang. Aku mengingkan hal yang berbeda tapi aku selalu melakukan segala sesuatunya sama secara berulang-ulang.
Dengarlah cerita ini dan aku benar-benar tidak ingin menjadi selai kacang…
Dikisahkan ada dua orang mahasiswa yang memiliki kebiasaan setiap makan siang selalu membawa bekal sendiri-sendiri. Suatu hari dua mahasiswa tadi terlibat dalam percakapan. Salah satu diantara mereka mengeluh, ”uh, lagi-lagi roti dengan selai kacang.”
”Kalau kau bosan, besok kau minta saja ibumu mengganti dengan selai strawberry, atau selai nanas,” saran temannya dengan ringan.
”Tidak bisa,” katanya dengan menggeleng kuat-kuat.
Esok siangnya saat di kantin, lagi-lagi ia mengeluh, ”selai kacang lagi.”
Temannya hanya menghela nafas. ”Kau belum menyuruh ibumu untuk mengganti menu makan siangmu, ya?”
”Tidak bisa.”
Temannya mengernyit dahi, ”kenapa?”
”Karena yang menyiapkan bekalnya bukan ibuku.”
”Kalau begitu suruh nenekmu mengganti menu bekalmu,” katanya dengan tidak sabar.
Hari ketiga di waktu yang sama, yaitu ketika jam makan siang, mereka sama-sama membuka bekal masing-masing.
”Selai kacang lagi.”
”Ya, ampyun…kamu belum bilang nenekmu untuk mengganti menu bekalmu?”
”Tidak bisa.” Lagi-lagi dia ngotot.
”Kenapa tidak bisa?” kali ini temannya itu benar-benar habis kesabarannya. ”Kalau begitu saya kasih uang dan besok suruh ibu atau nenekmu mengganti menu makan siangmu, ok?”
”Tidak bisa.”
”Iya, tapi kenapa?” katanya dengan setengah naik pitam.
”Karena yang menyiapkan bekal aku sendiri.”
Begitulah terkadang aku menginginkan sesuatu yang berbeda dalam hidupku tapi aku melakukan hal yang sama secara terus menerus. Bukan orang lain yang menata bekal hidupku, tapi aku sendiri. Dan aku mengeluh akan bekal makanan yang selalu sama padahal yang seharusnya aku lakukan cukup sepele. Ganti menu makan siangnya. Tapi aku ngotot, tidak bisa. Pokoknya tidak bisa. Hahahaaa…Bodoh banget
Kata eyang Einstein, hanya orang bodoh yang menuntut mendapat jawaban yang berbeda tapi dia melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Pokonya aku tidak mau hidupku seperti selai kacang, besok aku mau ganti selai nanas, pasta karamel, pasta coklat, atau mungkin selai sawi :D
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 17.25 0 komentar
Label: my Stories ...
Minggu, 10 Oktober 2010
Diantara DOA dan KESOMBONGAN

Sebuah kapal karam di tengah laut karena terjangan badai dan ombak hebat.
Hanya dua orang lelaki yang bisa menyelamatkan diri dan berenang ke sebuah pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, mereka berdua yakin bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa.
Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat untuk membagi pulau kecil itu menjadi dua wilayah. Dan mereka tinggal sendiri-sendiri berseberangan di sisi-sisi pulau tersebut.
Doa pertama mereka panjatkan, mereka memohon agar diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke satu melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.
Seminggu kemudian, lelaki yang ke satu merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberikan seorang istri. Keesokan harinya, ada kapal yang karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang berenang dan terdampar di sisi tempat lelaki ke satu itu tinggal. Sedangkandi sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apanya.
Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan.Keesokan harinya,seperti keajaiban saja, semua yang diminta hadir untuknya.
Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya,lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat meninggalkan pulau itu. Pagi harinya mereka menemukan sebuah kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan siap-siap untuk berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, memang lelaki kedua itu tidak pantas menerima berkah tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.
Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu ini mendengar suara dari langit menggema, “Hai,
mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?” “Berkahku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki ke satu ini. “Doa lelaki temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka,ia tak pantas mendapatkan apa-apa.” “Kau salah!” suara itu membentak membahana. “Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa.
Dan, semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”
“Katakan padaku,” tanya lelaki ke satu itu.
“Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus merasa berhutang atas semua ini padanya?”
“Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!”
Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain?
Sadarilah betapa banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai seseorang / sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 03.54 0 komentar
Label: my Stories ...
Minggu, 26 September 2010
BAGUSSS BANGETT WAJIB DIBACAAA !!!

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja
Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.
Ibu menjawab: “Mengapa?
Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah.
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur.
Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku.
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?
Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi. Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana .
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?”
Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.”
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 20.10 0 komentar
Label: my Stories ...
Kamis, 23 September 2010
Tak selamanya, si cepat adalah si juara.

Cerita tukang batu Hiduplah seorang ahli batu yang sangat
terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri.
Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi
perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah
di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan
safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.
Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha
mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha
berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu.
Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat,
dan bersedia menjalani ujian.
"Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit," ucap sang ahli membuka pembicaraan.
"Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu
layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka
kamu harus mengulang ujian itu besok." Anak muda itu mendengarkan dengan
seksama. Ia mengangguk pelan, "Baiklah, itu pekerjaan mudah."
Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.
Disodorkannya ke arah muka si anak muda. "Ayo, ambil". Hap. Tampak kedua tangan
yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia
kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. "Kamu belum berhasil
anak muda. Cobalah besok." Sang pemuda tampak kecewa.
Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi,
dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian
itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah
terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak
putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti
dan tak mau menjadi ahli permata.
Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli
bertanya, "Kamu sudah siap?" Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas
gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, "Hei, tunggu dulu. Itu
bukan batu yang biasa kita gunakan!" Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda
malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari
sang ahli batu. "Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!"
***
Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan
mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan,
acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah
kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan.
Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu
untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu
bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi
pemenang? Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya
kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu
bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini
saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup.
Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian
kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 04.41 0 komentar
Label: my Stories ...
Gadis yang buta dan kekasihnya

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.
Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .
Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.
Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 04.03 0 komentar
Label: my Stories ...
Minggu, 07 Desember 2008
Artis Idolaku

Rifky Balweel (lahir 27 maret 1990 umur 18 tahun) adalah. aktor model indonesia. Rifky balweel adalah keturunan Arab-Belanda-Padang di Jakarta pada 27 Maret 1990. Ia mulai merintis karir-nya sejak SD dengan menjadi figuran beberapa iklan, sinetron dan juga menjadi model. Nama-nya mulai dikenal saat ia berperan sebagai 'Jono' dalam sinetron Inikah Rasanya(2005). Rifky balweel membuktikan kemampuan beraktingnya dalam karakter yang di lakoni-nya sebagai Jono' dalam sinetron Inikah Rasanya(2005) yang identik dengan kuper, culun, polos, humoris juga romantis. Namun setelah Inikah Rasanya(2005) berakhir, Rifky tetap membuktikan ke eksis-annya di dunia entertaintment tanah air dengan terus tampil pada banyak Film Televisi (FTV). Rifky Balweel juga sudah 2 kali bermain dalam layar lebar sebagai pemeran utama.Layar lebar yang pernah di bintanginya yaitu Inikah Rasanya(2005) & The Wall(2007) .
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 05.27 3 komentar
Label: my Stories ...
Sabtu, 29 November 2008
my future
I'm Maya ... Seorang anak perempuan aneh yang sedang mencari ARTI hidup yang sebenarnyh
Kadang gw binun...
Buadt apa sii gw hidup?? Buadt app ssii gw sekolah ?? Buadt ap sii gw blajar??
Trnyata smuanyh tertuju pada atu hal ... Yakni YME . DiaLah yang nyiptain gw, dy yang ngatur gw, dy yang ud baekk bgd ma gw.
Gw yang hnya manusia aneh tak biasa dan sering berrbuat ulah acap kali melakukan ksalahan,mlakukan sstu yang jlas2 gg ad faedahnyh
Tapi Dia selalu mavbn gw.. Emang TOP abis tuhan gw ni,tapi gw skg bukan anak kcil lgi walaupun sra gg lgsung skap gw mash childish
gw kan berusaha taqwa kepada-Nya
gw mau brubah mjdi yg lbih baik lgi
gw pgn bgd ngangkat drajat kluarga gw
gw pgn jdi seorang dokter,yg gg hnya baik, tapi jga pnya rsa kemanusiaan yg tnggi ...
Akankah gw brhasil mncapai cta2 gw??
Ampe skg gw masii bgung bgd gw mao jdi apah..
kuliah dmnah?
tapi gw jalanin ajh deh.. Toh masa depan slalu nggu gw...
Let see the FUTURE !!!
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 19.27 0 komentar
Label: my Stories ...
Jumat, 28 November 2008
My AkSeL
AKSELERASI lebih detailnyh angkatan o6 inih bedaaaaa bgt ma angkatan2 sebelumnyh... anggotanyh ssi cuman 16 ulun ... But hebohNyh bsa ngeguncang dunia ... hhhhahha Gw sebagai slah seorang anggotanya mengaku bahwa sempet Shock memiliki teman seperti mereka hhii lebai bgd yh .... Tapi disatu sisi gw seneng n bangga pnya temen2 kyak mereka .... coz kata mbah Sintosca : "Persahabatan Itu Bgaikan Kepompong " pcaya gga??? klo gg pcya datengin ajj gedung akselerasi smanda
lantai 1 .... untuk lebih jlasnyh hubngi saja : Maiia hhhe... yakni sya sendri oyh sbnrnyh bnyk bgd si perstwa2 heboh yg mauk dceritain ... PENASARAN?? tggu posingan gw brikutnyh yh !!!!
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 05.05 3 komentar
Label: my Stories ...
Selasa, 25 November 2008
Jangan Menangis Ayah

> Saat menjalani pendidikan sekolah menengah pertama, aku punya kebiasaan yang kulakukan setiap pulang sekolah. Setiap hari aku masuk melalui pintu belakang dan langsung menaiki tiga pelataran anak tangga ke kamar tidurku. Aku menutup pintu, menyalakan musik keras-keras, dan berbaring di ranjang selama dua jam sampai seseorang memanggilku untuk makan malam. Aku makan dalam keheningan; aku berusaha keras menghindari berbicara dengan keluargaku, dan bahkan berusaha lebih keras lagi menghindari bertatap mata dengan mereka. Aku bergegas menghabiskan makan malam dan kembali ke kamarku untuk mendengarkan musik lagi. Aku mengunci diri di kamar sampai tiba waktu sekolah sampai keesokan harinya.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 04.25 1 komentar
Label: my Stories ...
The Boy Who Never Remember My Name…
Poninya yang mulai panjang jatuh ke wajahnya saat dia menunduk untuk menatapku dan dia menyibakkannya dengan cepat. Helaian rambut hitam kecoklatan itu kembali ke tempatnya semula. Masih sambil tersenyum, dia bertanya dengan suara bass nya yang khas.
“Udah ngerjain PR?”
“Hmm..” aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul, “ini.”
“Semuanya?” dia mengangkat alis tidak percaya. Ya..siapa sih yang percaya ada orang yang bisa mengerjakan 100 soal matematika dalam waktu semalam??
“Semuanya,” aku menegaskan.
“Boleh liat?”
“Silahkan.”
Dia kembali ke mejanya, tempat anak - anak segengnya, duduk dan mengobrol. Aku melihatnya disambut bagaikan pahlawan saat dia mengacungkan buku PR-ku kepada teman-temannya.
Well, dia tetap terlihat memukau, bahkan saat menyontek PR. Itulah dia, cowok tercakep di kelasku. Entah sejak kapan, aku selalu menjadi tempatnya mencontek PR.
Aku suka gayanya saat berlagak bagaikan pahlawan karena berhasil meminjam PR dari cewek terpintar di kelas ini. Aku suka gayanya saat dia menunduk di atas PR-ku dan mulai menyalinnya dengan cermat. Aku suka gayanya saat dia menutup bukunya dengan puas, dan menghampiriku. Aku suka gayanya saat dia tersenyum tulus penuh terimakasih dan mengembalikan PR ku.
Aku suka gayanya saat dia berkata, “Thanks ya. You are my hero, Sist!”
Namaku jelas bukan “Sist”, tapi aku tetap tersenyum dan mengangguk, “Sama-sama.”
Seandainya aku memiliki cukup keberanian untuk mengatakan padanya namaku, yang sampai sekarang tidak pernah dia ingat. Well, tentu saja aku tidak akan pernah mengatakannya. Untuk apa??
Baginya aku hanyalah tempat jawaban untuk 100 nomor PR. Dia tidak perlu tahu kalau aku adalah pengagum rahasianya. Tapi terkadang ku berharap, seandainya dia tahu
mungkin dia akan tersenyum ramah dan memanggil namaku untuk pertama kalinya…
***
Dia jadian dengan cewek dari kelas sebelah kemarin. Bagaikan pasangan Romeo dan Juliet aku melihat mereka jalan berdua sepulang sekolah hari ini. Cewek yang cantik, kuakui itu. Rambut hitamnya yang lurus telah berubah warna menjadi burgundy gelap. Entah di salon mana dia merubah rambutnya itu. Yang pasti, aku tidak akan pernah menanyakannya ( ibuku pasti membunuhku kalau aku pulang ke rumah dengan warna rambut burgundy ). Lipstik nya yang pink membingkai bibirnya yang ranum saat dia tertawa manis di depan cowok itu.
Mereka berpelukan di gerbang sekolah, tanpa memperdulikan angin yang mulai berhembus kencang, mendinginkan tengkukku dan membuatku harus merapatkan syalku. Pasti bagi mereka berdua, suasana saat ini bagaikan musim panas di Hawaii.
Aku melewati pasangan yang sedang kasmaran itu, seperti daun - daun kering melewatiku begitu saja. Tapi daun-daun kering tidak menyimpan tangis dalam hati mereka. Sedangkan aku??
Aku ingin cepat sampai di rumah dan membenamkan diri di dalam deretan rumus Trigonimetri. Sekedar melupakan apa yang kusaksikan barusan. Dan sekedar membuat PR lagi, siapa tahu besok dia akan mencontekku lagi, dan berharap besok dia akhirnya akan memanggil namaku untuk pertama kalinya…
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 04.13 1 komentar
Label: my Stories ...
Sabtu, 22 November 2008
Warisan
Kedatangan Rafilus ke Kutaraitaji hanya karena, Bagindo Tahar sang ayah yang sedang sakit. Pemuda Minang yang kini sudah berhasil dalam penghidupannya di Jakarta bersama adik-adiknya, bermaksud membawa ayahnya berobat ke Jakarta. Dengan maksud itu, ia sengaja datang sendiri menjemput ayahnya.
Namun, sanak saudara di Kuraitaji memandang kedatangan Rafilus dalam kaitannya dengan harta kekayaan Bagindo Tahar. Ayah Rafilus dalam kaitannya dengan harta kekayaan Bagindo Tahar. Ayah Rafilus di daerah itu memang dikenal sebagai bangsawan kaya yang dihormati dan disegani. Maka, wajar bila sanak saudaranya mulai merebut dan membincang soal harta warisan mengingat kondisinya yang sudah parah. Dapat dipahami pula jika kedatangan Rafilus dihubungkan dengan soal harta warisan ayahnya. Anggapan itu tak hanya datang dari Murni, ibu tirinya, tetapi juga datang dari Sri Baniar, adik perempuan Bagindo Taharyang bersuamikan Teungku Salim, anak Sri Baniar dari suami pertama, Sidi Badarudin dan istrinya Asnah. Rafilus tidak mau peduli dengan semua anggapan itu. Yang penting baginya, ayahnya dapat berobat ke Jakarta.
Ternyata ayah Rafilus tidak dapat begitu saja meninggalkan Siti Baniar dan Sidi Badarudin yang juga sedang sakit parah. Itulah yang memberatkan Bagindo Tahar, mengingat keduanya termasuk generasi terakhir menurut garis matrilineal, sebagaimana berlaku dalam sistem kekerabatan di Minangkabau.
Sungguhpun ajakan Rafilus ditolak ayahnya, ia masih akan mencoba membujuknya sekali lagi pada saat yang tepat. Namun, sementara itu ia makin merasakan betapa tidak sedikit sanak keluarga, kerabat, maupun yang tiba-tiba mengaku kerabatnya benar-benar menginginkan harta warisan ayahnya. Perempuan muda, janda kesepian dan menggairahkan, semuanya mau membujuk, hendak mau mendapatkan keuntungan dari kematian keluarga Bagindo Tahar. Semuanya menjengkelkan Rafilus.
Suatu hari, beberapa saat setelah kedatangan Tun Rudin, seorang dukun terkenal di Kutairaji. Penyakit Siti Baniar dan Sidi Badarudin kambuh. Siti Baniar meraung-raung. Seluruh tubuhnya merah seperti udang dibakar. Keadaan Siti Badarudin sendiri tidak lebih baik. Menjelang malam ia meninggal dunia. Istrinya, Asnah pada saat itu entah berada dimana.
Esoknya upacara pemakaman dilaksanakan. Sempat terjadi silang pendapat perihal tempat dimakamkan. Bagindo Tahar memutuskan agar kemenakannya dimakamkan di depan rumahnya. Asnah bersama Tuan Rudi dan Salim berusaha memfitnah Murni dengan menyebar kabar bahwa penyebab kematian Sidi Badarudin adalah karena diracuni oleh Murni. Namun, sebelum semua itu terjadi, Rafilus segera memberi tahu Bagindo Tahar. Orang tua itu mendesak Asnah agar membuang racun yang dibawanya. Akibatnya rencana Asnah berbalik pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Rakena yang masih kerabat Bagindo Tahar, datang menjemput Rafilus untuk menjadi suami anaknya, Arneti. Sejalan dengan itu, hubungan Rafilus dengan janda bernama Maimunah, makin intim. Rencana pernikahan Rafilus dan Arneti tetap dipersiapkan tanpa mengganggu hubungan Rafilus dengan Maimunah.
Sebelum perkawinan dilakasanakan, Siti Baniar meninggal. Perkawinan ditunda. Terpaksa menunggu beberapa hari. Selain itu, suami Siti Baniar ternyata suami Siti Baniar ternyata sudah kawin lagi dengan Upik Denok saat menjelang kematian istrinya.
Perkawinan Rafilus dan Arneti jadi juga dilaksanakan. Namun, malam pengantin tidak sempat terjadi, karena Rafilus pergi ke rumah ayahnya bersama janda bernama Farida. Malam-malam berikutnya Rafilus tetap tinggal di rumah ayahnya sampai ayahnya itu meninggal. Namun Bagindo Tahar sempat membuat surat warisan yang memberi kuasa sepenuhnya pada Rafilus untuk membagi harta warisannya.
Lain dengan kematiandua orang kemenakannya, kematian Bagindo Tahar mendapat perhatian dari sgenap lapisan masyarakat Kuraitaji. Arneti datang melayat, namun sama sekali tidak menyinggung soal mengapa suaminya tak datang ke rumah. Rafilus yang tahu tabiat istrinya lebih mencurahkan pada pemakaman ayahnya.
Pada upacara peringatan 40 hari kematian Bagindo Tahar, Rafilus sengaja hendak membereskan soal warisan dihadapan sanak keluarganya. Tak ada yang memprotes tindakan Rafilus. Rafilus sendiri tidak memperoleh apa-apa dari harta warisan itu. Ia hanya bertindak sebagai orang yang membereskan pembagian warisan.
Ternyata hampir seluruh haryta kekayaan Bagindo Tahar telah digadaikan. Mengingat Bagindo Tahar banyak meninggalkan banyak hutang , maka seluruh sanak keluarganya hanya akan mendapat harta warisan apabila mampu dan mau melunasi segala hutang Bagindo Tahar. Setelah dihitung ternyata jumlah hutangnya sama dengan jumlah warisan yang ditinggalakan bangsawan itu. Akibatnya, tak ada seorangpun yang berniat memperoleh harta warisan itu.
Setelah selesai dengan urusan pembagian harta warisan itu, Rafilus kembali ke Jakarta. Namun, kurang tiga bulan kemudian ia kembali ke Kuraitaji untuk menjemput Maimunah yang telah mengandung anak Rafilus. Janda itu kemudian diboyongnya ke Jakarta untuk dijadikan istrinya. Sedangkan Arneti telah diceraikan jauh-jauh sebelumnya.
Pengarang : Chairul Harun
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1979
Pesan moral yang dapat diambil : Janganlah berprasangka buruk terhadap orang yang akan berbuat baik.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 16.25 0 komentar
Label: my Stories ...
Sabtu, 08 November 2008
“Kisah Sebuah Jam Dinding”

Sebuah jam dinding baru selesai dibuat. Pembuatnya menggantungkannya di dinding. Jam dinding baru yang asih muda itu melihat ke kiri dan ke kanan. Ternyata banyak sekali teman sebangsanya. Ia bertanya kepada teman di sampingnya yang sedang rajin bekerja, “Apa yang harus aku perbuat?” Jam dinding tua di sebelah kirinya berkata dengan penuh kesombongan, “Engkau harus mengikuti teladanku. Dalam setahun engkau harus bergerak ke kiri dan ke kanan sebanyak 33.000.000 kali!!” Mendengar itu jam dinding yang masih muda dan belum berpengalaman itu hampir jatuh pingsan. “Apakah saya mampu bergerak sebanyak itu?” keluhnya.
Melihat teman yang masih belum bermakan garam yang sudah hampir menyerah sebelum memulai itu, jam dinding di sebelah kanannya berusaha menghiburnya, “Hai anak muda! Tak usah engkau berpikir terlalu berat. Tak perlu menghitung dalam setahun engkau bergerak berapa kali. Dalam setiap detik, bergeraklah satu kali. Itu sudah cukup bagimu.”
Jam dinding yang masih muda kini menjadi agak lega. Ia merasa bahwa ia mampu bergerak sekali dalam setiap detik.Dan secara tak sadar ia telah menyelesaikan 33.000.000 dalam setahun.
Diposting oleh Maya Puspita Sari di 17.09 1 komentar
Label: my Stories ...

