Selasa, 30 Desember 2008

puisi...


Aku mengamini keanggunanmu, sebagaimana panas yang menyingkir ketika datang gelap. Engkau yang tak tergapai oleh nalar, tak tertampung oleh perasaan. Aku tidak sanggup memyakinkanmu, bukan karena kelahiranmu yang mistis, aku tidak sanggup meyainkanmu, karena anggukanmu yang filosofis mempraharai perahu kayu yang memuat semua balok mimpiku menjadi pupus.
Engkau parade keindahan yang Tuhan pawaikan untukku. Denganmu, Tuhan ingin mengatakan kepadaku: “Dengannya, engkau akan melampaui batas eros, karena di sinilah kupendam senoktah rahasiaku, kutitipkan sebagian pengetahuanku”. Tuhan benar, aku tersesat sebelum menemukanmu di sini.
Tapi tentu saja Tuhan tahu jejak keraguanku membaca epistem kosmologi itu, karena engkaulah miniatur dari semesta itu sendiri.Engkau adalah kosmos yang diperdebatkan para teolog dari masa ke masa, dari dulu engkau selalu sajak kegalauanku, karena engkau selalu menyimpan di dasar airmu yang senyap keluasan pertanyaan tak berbatas, namun tak pernah menyediakan jawaban.
Atau jika aku mendekatimu dengan filsafat, engkaukah kebenaran yang dicari para filosof itu? Sebab melihatmu kebenaran itu sendiri, engkau selalu tak telacak oleh rumus-rumus logika, tak terkejar oleh logos manapun, lalu aku yakin, engkaulah nilai itu. Mengejamu, aku tidak perlu piranti pengetahuan tertentu, sebab dengan bersamamu, pengetahuan itu akan kutemukan sendiri, bahwa engkau sebenarnya bersemayam di balik lirik puisi.
Tapi sebenarnya, engkau juga adalah espifora, simbol keserasian dan keelokan jagad raya, tapi karena engkau bukan kata-kata, ia hanya bisa diwakili oleh satu benda. Ia harus intim dan tidak pernah membuka pintu untuk dipersanggahkan. Hanya bunga Edelweis yang bisa menggantikanmu dengan sangat tuntas, maka engkaulah Edelweis terindah yang selalu berlibur menggerataki mimpi-mimpiku.
Aku dalam kebingunganku, seperti anak rusa yang bimbang, rerumputan dan air tidak dilihat lagi sebagai sumber kehidupan, tapi jalan setapak menuju kegilaan. Di manapun, sesuatu yang berlebihan selalu menciptakan histeria. Akulah si rusa malang yang kebingungan itu. Akulah si gila itu.
Musikku adalah kepiluan panjang, orkestra kecemburuan dan petikan harpa yang ragu. Tidak ada nyanyian di sini. Mencintaimu adalah kemerdekaanku, kemerdekaan tanpa tugu peringatan dan tanpa bulan madu.
Sebab cinta bukan wacana, ia tak bisa kau cari di langit malam. Sebagaimana kuncup yang merekah lalu gugur, demikianlah aku menunggumu.

3 komentar:

Oxs mengatakan...

siiph
Kreatiff

ajarin gw gmn bwt nya??

KaLz-Myz mengatakan...

bagus bnget puisinya,,,

hHehe,,, puitis yah may??

wii fotnya,, hHe,,

Maya Puspita Sari mengatakan...

wkwkkkwkwk makanyh cari inspirasi gtuhh =D