Selasa, 25 November 2008

The Boy Who Never Remember My Name…

Matanya coklat hazelnut. Senyumnya yang terkembang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Saat dia menoleh dan berjalan mendekat, wangi colognenya yang maskulin membuatku tak tahan untuk menghirup napas dalam - dalam ( dimana sih dia beli cologne itu?? wanginya enak banget )

Poninya yang mulai panjang jatuh ke wajahnya saat dia menunduk untuk menatapku dan dia menyibakkannya dengan cepat. Helaian rambut hitam kecoklatan itu kembali ke tempatnya semula. Masih sambil tersenyum, dia bertanya dengan suara bass nya yang khas.

“Udah ngerjain PR?”

“Hmm..” aku merogoh tasku dan mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul, “ini.”

“Semuanya?” dia mengangkat alis tidak percaya. Ya..siapa sih yang percaya ada orang yang bisa mengerjakan 100 soal matematika dalam waktu semalam??

“Semuanya,” aku menegaskan.

“Boleh liat?”

“Silahkan.”

Dia kembali ke mejanya, tempat anak - anak segengnya, duduk dan mengobrol. Aku melihatnya disambut bagaikan pahlawan saat dia mengacungkan buku PR-ku kepada teman-temannya.

Well, dia tetap terlihat memukau, bahkan saat menyontek PR. Itulah dia, cowok tercakep di kelasku. Entah sejak kapan, aku selalu menjadi tempatnya mencontek PR.

Aku suka gayanya saat berlagak bagaikan pahlawan karena berhasil meminjam PR dari cewek terpintar di kelas ini. Aku suka gayanya saat dia menunduk di atas PR-ku dan mulai menyalinnya dengan cermat. Aku suka gayanya saat dia menutup bukunya dengan puas, dan menghampiriku. Aku suka gayanya saat dia tersenyum tulus penuh terimakasih dan mengembalikan PR ku.

Aku suka gayanya saat dia berkata, “Thanks ya. You are my hero, Sist!”

Namaku jelas bukan “Sist”, tapi aku tetap tersenyum dan mengangguk, “Sama-sama.”

Seandainya aku memiliki cukup keberanian untuk mengatakan padanya namaku, yang sampai sekarang tidak pernah dia ingat. Well, tentu saja aku tidak akan pernah mengatakannya. Untuk apa??

Baginya aku hanyalah tempat jawaban untuk 100 nomor PR. Dia tidak perlu tahu kalau aku adalah pengagum rahasianya. Tapi terkadang ku berharap, seandainya dia tahu
mungkin dia akan tersenyum ramah dan memanggil namaku untuk pertama kalinya…

***

Dia jadian dengan cewek dari kelas sebelah kemarin. Bagaikan pasangan Romeo dan Juliet aku melihat mereka jalan berdua sepulang sekolah hari ini. Cewek yang cantik, kuakui itu. Rambut hitamnya yang lurus telah berubah warna menjadi burgundy gelap. Entah di salon mana dia merubah rambutnya itu. Yang pasti, aku tidak akan pernah menanyakannya ( ibuku pasti membunuhku kalau aku pulang ke rumah dengan warna rambut burgundy ). Lipstik nya yang pink membingkai bibirnya yang ranum saat dia tertawa manis di depan cowok itu.

Mereka berpelukan di gerbang sekolah, tanpa memperdulikan angin yang mulai berhembus kencang, mendinginkan tengkukku dan membuatku harus merapatkan syalku. Pasti bagi mereka berdua, suasana saat ini bagaikan musim panas di Hawaii.

Aku melewati pasangan yang sedang kasmaran itu, seperti daun - daun kering melewatiku begitu saja. Tapi daun-daun kering tidak menyimpan tangis dalam hati mereka. Sedangkan aku??

Aku ingin cepat sampai di rumah dan membenamkan diri di dalam deretan rumus Trigonimetri. Sekedar melupakan apa yang kusaksikan barusan. Dan sekedar membuat PR lagi, siapa tahu besok dia akan mencontekku lagi, dan berharap besok dia akhirnya akan memanggil namaku untuk pertama kalinya…

1 komentar:

KaLz-Myz mengatakan...

Hmm,,,

wangi baygon th,, hhe,,
beli di depan pasar tani,, :D


btw keren yh orgnya?

Hho..