Selasa, 25 November 2008

Jangan Menangis Ayah


> Saat menjalani pendidikan sekolah menengah pertama, aku punya kebiasaan yang kulakukan setiap pulang sekolah. Setiap hari aku masuk melalui pintu belakang dan langsung menaiki tiga pelataran anak tangga ke kamar tidurku. Aku menutup pintu, menyalakan musik keras-keras, dan berbaring di ranjang selama dua jam sampai seseorang memanggilku untuk makan malam. Aku makan dalam keheningan; aku berusaha keras menghindari berbicara dengan keluargaku, dan bahkan berusaha lebih keras lagi menghindari bertatap mata dengan mereka. Aku bergegas menghabiskan makan malam dan kembali ke kamarku untuk mendengarkan musik lagi. Aku mengunci diri di kamar sampai tiba waktu sekolah sampai keesokan harinya.Kadang orangtuaku bertanya apakah ada yang tak beres. Aku membentak mereka, mengatakan aku baik-baik saja dan meminta mereka jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan. Sebenarnya, aku tak bisa menjawab mereka karena aku tidak tahu apa yang tak beres. Kalau kuingat lagi, saat itu aku sangat tidak bahagia. Aku menangis tanpa alasan, dan hal-hal kecil membuat amarahku meledak. Makanku juga tidak teratur. Saat itu tidak “keren” kalau terlihat makan siang di sekolah. Aku tidak terlalu suka makan sarapan, dan jika tidak diwajibkan makan dengan keluargaku setiap malam, aku mungkin sama sekali tidak pernah makan.Pada musim panas sebelum tahun pertamaku di SMU, ayahku berkata bahwa ia ingin bicara. Aku tidak merasa senang. Bahkan, aku membencinya. Aku tidak ingin bicara dengan siapa pun, apalagi dengan Ayah.Kami duduk, dan ia memulai pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang biasa: “Kau tak apa-apa, kan? Apa semua baik-baik saja?” Aku tidak menjawab; aku menghindari tatapan matanya.“Setiap hari pulang dari kantor, aku menemukan kau terkunci di kamarmu, terpisah dari kami.” Ia berhenti sebentar, suaranya agak gemetar ketika ia mulai bicara lagi.”Aku merasa seolah kau menyingkirkan aku dari hidupmu.” Setelah berkata begitu, Ayah, pria yang kupikir lebih kuat daripada baja, mulai menangis. Dan yang kumaksud bukan sekadar beberapa tetes airmata yang bergulir di pipinya. Berbulan-bulan penderitaan yang tersembunyi membanjir ke luar matanya. Aku merasa seperti di tampar. Tidak pernah selama empat belas tahun hidupku aku melihat Ayah menangis. Dari balik air matanya, ia terus berbicara, mengungkapkan keinginannya menjadi bagian hidupku dan kerinduannya menjadi temanku. Aku mencintai Ayah lebih daripada segala sesuatu di dunia , dan jantungku seolah tertusuk saat aku sadar telah melukainya sedemikian dalam. Tatapannya beralih ke arahku. Matanya tampak lelah dan penuh penderitaan-penderitaan yang tidak pernah kulihat, atau mungkin yang telah kuabaikan. Aku merasa tenggorokanku tersumbat ketika ia terus menangis. Perlahan, rasa tersumbat di tenggorokanku berubah menjadi air mata, dan mulai mengucur deras dari mataku.“Jangan menangis, Ayah,” kataku, meletakkan tangan di bahunya.“Kuharap aku tidak membuatmu malu dengan air mataku,” jawabnya.“Tentu saja tidak.”Kami menangis lagi selama beberapa saat sebelum ia pergi. Pada hari-hari sesudahnya, aku mengalami kesulitan mengubah pola yang sudah begitu mendarah daging selama dua tahun terakhir. Aku mencoba duduk di ruang tamu bersama orangtuaku saat mereka minum kopi. Aku merasa tidak tahu harus berbuat apa dalam dunia mereka, sementara aku mati-matian berusaha menyesuaikan diri dengan berbagai kebiasaan baru. Tapi, aku berusaha. Aku memerlukan waktu selama hampir satu tahun sebelum bisa kembali merasa sepenuhnya nyaman berada di dekat keluargaku dan menyertakan mereka dalam kehidupan pribadiku.Sekarang aku siswa tahun kedua di SMU, dan hampir setiap pulang sekolah, aku duduk dan berbagi cerita dengan Ayah sambil minum kopi. Kami membicarakan tentang hidupku, dan ia kadang menawarkan saran, tapi yang lebih sering ia lakukan hanyalah mendengarkan.Kalau mengingatnya lagi, aku sangat bersyukur aku dan ayahku malam itu berbicara. Bukan saja hubunganku dengan Ayah menjadi lebih baik, tapi aku juga mendapat teman.


1 komentar:

KaLz-Myz mengatakan...

Aku mendapati diri ini seperti anak kecil yang patut dikasihani
Anak kecil yang kehujanan
Meski banyak orang heran ada laki-laki yang menangis
Tapi, seandainya aku tidak menangis
Tentu itu akan lebih mengherankan lagi
Ingat, tidak semua tangisan itu pertanda lemah..

terkadang dengan tangisan setiap insan dapet menjadi kuat,, tegar,, dan optimisme,,,

hHo,, menarik banget kisah ini,, T_T